Pusaka Kimia Weblog

Situs kimia Indonesia

ASAM ASETAT

Asam asetat, asam etanoat atau asam cuka adalah senyawa kimia asam organik yang dikenal sebagai pemberi rasa asam dan aroma dalam makanan. Asam cuka memiliki rumus empiris C2H4O2. Rumus ini seringkali ditulis dalam bentuk CH3-COOH, CH3COOH, atau CH3CO2H. Asam asetat murni (disebut asam asetat glasial) adalah cairan higroskopis tak berwarna, dan memiliki titik beku 16.7°C.

Asam asetat merupakan salah satu asam karboksilat paling sederhana, setelah asam format. Larutan asam asetat dalam air merupakan sebuah asam lemah, artinya hanya terdisosiasi sebagian menjadi ion H+ dan CH3COO-. Asam asetat merupakan pereaksi kimia dan bahan baku industri yang penting. Asam asetat digunakan dalam produksi polimer seperti polietilena tereftalat, selulosa asetat, dan polivinil asetat, maupun berbagai macam serat dan kain. Dalam industri makanan, asam asetat digunakan sebagai pengatur keasaman. Di rumah tangga, asam asetat encer juga sering digunakan sebagai pelunak air. Dalam setahun, kebutuhan dunia akan asam asetat mencapai 6,5 juta ton per tahun. 1.5 juta ton per tahun diperoleh dari hasil daur ulang, sisanya diperoleh dari industri petrokimia maupun dari sumber hayati.

Penamaan

Asam asetat merupakan nama trivial atau nama dagang dari senyawa ini, dan merupakan nama yang paling dianjurkan oleh IUPAC. Nama ini berasal dari kata Latin acetum, yang berarti cuka. Nama sistematis dari senyawa ini adalah asam etanoat. Asam asetat glasial merupakan nama trivial yang merujuk pada asam asetat yang tidak bercampur air. Disebut demikian karena asam asetat bebas-air membentuk kristal mirip es pada 16.7°C, sedikit di bawah suhu ruang.

Singkatan yang paling sering digunakan, dan merupakat singkatan resmi bagi asam asetat adalah AcOH atau HOAc dimana Ac berarti gugus asetil, CH3−C(=O)−. Pada konteks asam-basa, asam asetat juga sering disingkat HAc, meskipun banyak yang menganggap singkatan ini tidak benar. Ac juga tidak boleh disalahartikan dengan lambang unsur Aktinium (Ac).

Sejarah
Cuka telah dikenal manusia sejak dahulu kala. Cuka dihasilkan oleh berbagai bakteria penghasil asam asetat, dan asam asetat merupakan hasil samping dari pembuatan bir atau anggur.

Penggunaan asam asetat sebagai pereaksi kimia juga sudah dimulai sejak lama. Pada abat ke-3 Sebelum Masehi, Filsuf Yunani kuno Theophrastos menjelaskan bahwa cuka bereaksi dengan logam-logam membentuk berbagai zat warna, misalnya timbal putih (timbal karbonat), dan verdigris, yaitu suatu zat hijau campuran dari garam-garam tembaga dan mengandung tembaga (II) asetat. Bangsa Romawi menghasilkan sapa, sebuah sirup yang amat manis, dengan mendidihkan anggur yang sudah asam. Sapa mengandung timbal asetat, suatu zat manis yang disebut juga gula timbal dan gula Saturnus. Akhirnya hal ini berlanjut kepada peracunan dengan timbal yang dilakukan oleh para pejabat Romawi.

Pada abad ke-8, ilmuwan Persia Jabir ibn Hayyan menghasilkan asam asetat pekat dari cuka melalui distilasi. Pada masa renaisans, asam asetat glasial dihasilkan dari distilasi kering logam asetat. Pada abad ke-16 ahli alkimia Jerman Andreas Libavius menjelaskan prosedur tersebut, dan membandingkan asam asetat glasial yang dihasilkan terhadap cuka. Ternyata asam asetat glasial memiliki banyak perbedaan sifat dengan larutan asam asetat dalam air, sehingga banyak ahli kimia yang mempercayai bahwa keduanya sebenarnya adalah dua zat yang berbeda. Ahli kimia Prancis Pierre Adet akhirnya membuktikan bahwa kedua zat ini sebenarnya sama.

Pada 1847 kimiawan Jerman Hermann Kolbe mensintesis asam asetat dari zat anorganik untuk pertama kalinya. Reaksi kimia yang dilakukan adalah klorinasi karbon disulfida menjadi karbon tetraklorida, diikuti dengan pirolisis menjadi tetrakloroetilena dan klorinasi dalam air menjadi asam trikloroasetat, dan akhirnya reduksi melalui elektrolisis menjadi asam asetat.

Sejak 1910 kebanyakan asam asetat dihasilkan dari cairan piroligneous yang diperoleh dari distilasi kayu. Cairan ini direaksikan dengan kalsium hidroksida menghasilkan kalsium asetat yang kemudian diasamkan dengan asam sulfat menghasilkan asam asetat.

Sifat-sifat kimia
Keasaman

Atom hidrogen (H) pada gugus karboksil (−COOH) dalam asam karboksilat seperti asam asetat dapat dilepaskan sebagai ion H+ (proton), sehingga memberikan sifat asam. Asam asetat adalah asam lemah monoprotik dengan nilai pKa=4.8. Basa konjugasinya adalah asetat (CH3COO−). Sebuah larutan 1.0 M asam asetat (kira-kira sama dengan konsentrasi pada cuka rumah) memiliki pH sekitar 2.4.

Dimer siklis
Struktur kristal asam asetat menunjukkan bahwa molekul-molekul asam asetat berpasangan membentuk dimer yang dihubungkan oleh ikatan hidrogen.[2] Dimer juga dapat dideteksi pada uap bersuhu 120 °C. Dimer juga terjadi pada larutan encer di dalam pelarut tak-berikatan-hidrogen, dan kadang-kadang pada cairan asam asetat murni.[3] Dimer dirusak dengan adanya pelarut berikatan hidrogen (misalnya air). Entalpi disosiasi dimer tersebut diperkirakan 65.0–66.0 kJ/mol, entropi disosiasi sekitar 154–157 J mol–1 K–1.[4] Sifat dimerisasi ini juga dimiliki oleh asam karboksilat sederhana lainnya.
Sebagai Pelarut

Asam asetat cair adalah pelarut protik hidrofilik (polar), mirip seperti air dan etanol. Asam asetat memiliki konstanta dielektrik yang sedang yaitu 6.2, sehingga ia bisa melarutkan baik senyawa polar seperi garam anorganik dan gula maupun senyawa non-polar seperti minyak dan unsur-unsur seperti sulfur dan iodin. Asam asetat bercambur dengan mudah dengan pelarut polar atau nonpolar lainnya seperti air, kloroform dan heksana. Sifat kelarutan dan kemudahan bercampur dari asam asetat ini membuatnya digunakan secara luas dalam industri kimia.
Reaksi-reaksi kimia

Asam asetat bersifat korosif terhadap banyak logam seperti besi, magnesium, dan seng, membentuk gas hidrogen dan garam-garam asetat (disebut logam asetat). Logam asetat juga dapat diperoleh dengan reaksi asam asetat dengan suatu basa yang cocok. Contoh yang terkenal adalah reaksi soda kue (Natrium bikarbonat) bereaksi dengan cuka. Hapir semua garam asetat larut dengan baik dalam air. Salah satu pengecualian adalah kromium (II) asetat. Contoh reaksi pembentukan garam asetat:
Mg(s) + 2 CH3COOH(aq) → (CH3COO)2Mg(aq) + H2(g)
NaHCO3(s) + CH3COOH(aq) → CH3COONa(aq) + CO2(g) + H2O(l)

Aluminium merupakan logam yang tahan terhadap korosi karena dapat membentuk lapisan aluminium oksida yang melindungi permukaannya. Karena itu, biasanya asam asetat diangkut dengan tangki-tangki aluminium.
Asam asetat mengalami reaksi-reaksi asam karboksilat, misalnya menghasilkan garam asetat bila bereaksi dengan alkali, menghasilkan logam etanoat bila bereaksi dengan logam, dan menghasilkan logam etanoat, air dan karbondioksida bila bereaksi dengan garam karbonat atau bikarbonat. Reaksi organik yang paling terkenal dari asam asetat adalah pembentukan etanol melalui reduksi, pembentukan turunan asam karboksilat seperti asetil klorida atau anhidrida asetat melalui substitusi nukleofilik. Anhidrida asetat dibentuk melalui kondensasi dua molekul asam asetat. Ester dari asam asetat dapat diperoleh melalui reaksi esterifikasi Fischer, dan juga pembentukan amida. Pada suhu 440 °C, asam asetat terurai menjadi metana dan karbon dioksida, atau ketena dan air.
Deteksi

Asam asetat dapat dikenali dengan baunya yang khas. Selain itu, garam-garam dari asam asetat bereaksi dengan larutan besi(III) klorida, yang menghasilkan warna merah pekat yang hilang bila larutan diasamkan. Garam-garam asetat bila dipanaskan dengan arsenik trioksida (AsO3) membentuk kakodil oksida ((CH3)2As-O-As(CH3)2), yang mudah dikenali dengan baunya yang tidak menyenangkan.

Biokimia

Gugus asetil yang terdapat pada asam asetat merupakan gugus yang penting bagi biokimia pada hampir seluruh makhluk hidup. Gugus asetil yang terikat pada koenzim A (Asetil-KoA), merupakan enzim utama bagi metabolisme karbohidrat dan lemak. Namun demikian, asam asetat bebas memiliki konsentrasi yang kecil dalam sel, karena asam asetat bebas dapat menyebabkan gangguan pada mekanisme pengaturan pH sel. Berbeda dengan asam karboksilat berantai panjang (disebut juga asam lemak), asam asetat tidak ditemukan pada trigliserida dalam tubuh makhluk hidup. Sekalipun demikian, trigliserida buatan yang memiliki gugus asetat, triasetin (trigliserin asetat), adalah zat aditif yang umum pada makanan, dan juga digunakan dalam kosmetika dan obat-obatan.

Asam asetat diproduksi dan diekskresikan oleh bakteri-bakteri tertentu, misalnya dari genus Acetobacter dan spesies Clostridium acetobutylicum. Bakteri-bakteri ini terdapat pada makanan, air, dan juga tanah, sehingga asam asetat secara alami diproduksi pada buah-buahan/makanan yang telah basi. Asam asetat juga terdapat pelumas vagina manusia dan primata lainnya, berperan sebagai agen anti-bakteri.

Biosintesis asam asetat

Asam asetat merupakan produk katabolisme aerob dalam jalur glikolisis atau perombakan glukosa. Asam piruvat sebagai produk oksidasi glukosa dioksidasi oleh NAD+ terion lalu segera diikat oleh Koenzim-A. Pada prokariota proses ini terjadi di sitoplasma sementara pada eukariota berlangsung pada mitokondria.

Produksi
Asam asetat diproduksi secara sintetis maupun secara alami melalui fermentasi bakteri. Sekarang hanya 10% dari produksi asam asetat dihasilkan melalui jalur alami, namun kebanyakan hukum yang mengatur bahwa asam asetat yang terdapat dalam cuka haruslah berasal dari proses biologis. Dari asam asetat yang diproduksi oleh industri kimia, 75% diantaranya diproduksi melalui karbonilasi metanol. Sisanya dihasilkan melalui metode-metode alternatif.[6]

Produksi total asam asetat dunia diperkirakan 5 Mt/a (juta ton per tahun), setengahnya diproduksi di Amerika Serikat. Eropa memproduksi sekitar 1 Mt/a dan terus menurun, sedangkan Jepang memproduksi sekitar 0.7 Mt/a. 1.51 Mt/a dihasilkan melalui daur ulang, sehingga total pasar asam asetat mencapai 6.51 Mt/a.[7][8] Perusahan produser asam asetat terbesar adalah Celanese dan BP Chemicals. Produsen lainnya adalah Millenium Chemicals, Sterling Chemicals, Samsung, Eastman, dan Svensk Etanolkemi.

Karbonilasi metanol

Kebanyakan asam asetat murni dihasilkan melalui karbonilasi. Dalam reaksi ini, metanol dan karbon monoksida bereaksi menghasilkan asam asetat
CH3OH + CO → CH3COOH

Proses ini melibatkan iodometana sebagai zat antara, dimana reaksi itu sendiri terjadi dalam tiga tahap dengan katalis logam kompleks pada tahap kedua.
(1) CH3OH + HI → CH3I + H2O
(2) CH3I + CO → CH3COI
(3) CH3COI + H2O → CH3COOH + HI

Jika kondisi reaksi diatas diatur sedemikian rupa, proses tersebut juga dapat menghasilkan anhidrida asetat sebagai hasil tambahan. Karbonilasi metanol sejak lama merupakan metode paling menjanjikan dalam produksi asam asetat karena baik metanol maupun karbon monoksida merupakan bahan mentah komoditi. Henry Dreyfus mengembangkan cikal bakal pabrik karbonilasi metanol pada perusahaan Celanese di tahun 1925.[9] Namun, kurangnya bahan-bahan praktis yang dapat diisi bahan-bahan korosif dari reaksi ini pada tekanan yang dibutuhkan yaitu 200 atm menyebabkan metoda ini ditinggalkan untuk tujuan komersial. Baru pada 1963 pabrik komersial pertama yang menggunakan karbonilasi metanol didirikan oleh perusahaan kimia Jerman, BASF dengan katalis kobalt (Co). Pada 1968, ditemukan katalis kompleks Rhodium, cis−[Rh(CO)2I2]− yang dapat beroperasi dengan optimal pada tekanan rendah tanpa produk sampingan. Pabrik pertama yang menggunakan katalis tersebut adalah perusahan kimia AS Monsanto pada 1970, dan metode karbonilasi metanol berkatalis Rhodium dinamakan proses Monsanto dan menjadi metode produksi asam asetat paling dominan. Pada akhir 1990′an, perusahan petrokimia British Petroleum mengkomersialisasi katalis Cativa ([Ir(CO)2I2]−) yang didukung oleh ruthenium. Proses berbasis iridium ini lebih efisien dan lebih “hijau” dari metode sebelumnya[10], sehingga menggantikan proses Monsanto.

Oksidasi asetaldehida

Sebelum komersialisasi proses Monsanto, kebanyakan asam asetat diproduksi melalui oksidasi asetaldehida. Sekarang oksidasi asetaldehida merupakan metoda produksi asam asetat kedua terpenting, sekalipun tidak kompetitif bila dibandingkan dengan metode karbonilasi metanol. Asetaldehida yang digunakan dihasilkan melalui oksidasi butana atau nafta ringan, atau hidrasi dari etilena. Saat butena atau nafta ringan dipanaskan bersama udara disertai dengan beberapa ion logam, termasuk ion mangan, kobalt dan kromium, terbentuk peroksida yang selanjutnya terurai menjadi asam asetat sesuai dengan persamaan reaksi dibawah ini.
2 C4H10 + 5 O2 → 4 CH3COOH + 2 H2O

Umumnya reaksi ini dijalankan pada temperatur dan tekanan sedemikian rupa sehingga tercapai suhu setinggi mungkin namut butana masih berwujud cair. Kondisi reaksi pada umumnya sekitar 150 °C and 55 atm. Produk sampingan seperti butanon, etil asetat, asam format dan asam propionat juga mungkin terbentuk. Produk sampingan ini juga bernilai komersial dan jika diinginkan kondisi reaksi dapat diubah untuk menghasilkan lebih banyak produk samping, namun pemisahannya dari asam asetat menjadi kendala karena membutuhkan biaya lebih banyak lagi.

Melalui kondisi dan katalis yang sama asetaldehida dapat dioksidasi oleh oksigen udara menghasilkan asam asetat.
2 CH3CHO + O2 → 2 CH3COOH

Dengan menggunakan katalis modern, reaksi ini dapat memiliki rasio hasil (yield) lebih besar dari 95%. Produk samping utamanya adalah etil asetat, asam format dan formaldehida, semuanya memiliki titik didih yang lebih rendah daripada asam asetat sehingga dapat dipisahkan dengan mudah melalui distilasi.

Penggunaan
Asam asetat digunakan sebagai pereaksi kimia untuk menghasilkan berbagai senyawa kimia. Sebagian besar (40-45%) dari asam asetat dunia digunakan sebagai bahan untuk memproduksi monomer vinil asetat (vinyl acetate monomer, VAM). Selain itu asam asetat juga digunakan dalam produksi anhidrida asetat dan juga ester. Penggunaan asam asetat lainnya, termasuk penggunaan dalam cuka relatif kecil.

Keamanan
Asam asetat pekat bersifat korosif dan karena itu harus digunakan dengan penuh hati-hati. Asam asetat dapat menyebabkan luka bakar, kerusakan mata permanen, serta iritasi pada membran mukosa. Luka bakar atau lepuhan bisa jadi tidak terlihat hingga beberapa jam setelah kontak. Sarung tangan latex tidak melindungi dari asam asetat, sehingga dalam menangani senyawa ini perlu digunakan sarung tangan berbahan karet nitril. Asam asetat pekat juga dapat terbakar di laboratorium, namun dengan sulit. Ia menjadi mudah terbakar jika suhu ruang melebihi 39 °C (102 °F), dan dapat membentuk campuran yang mudah meledak di udara (ambang ledakan: 5.4%-16%).
Larutan asam asetat dengan konsentrasi lebih dari 25% harus ditangani di sungkup asap (fume hood) karena uapnya yang korosif dan berbau. Asam asetat encer, seperti pada cuka, tidak berbahaya. Namun konsumsi asam asetat yang lebih pekat adalah berbahaya bagi manusia maupun hewan. Hal itu dapat menyebabkan kerusakan pada sistem pencernaan, dan perubahan yang mematikan pada keasaman darah.

April 15, 2008 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

BORAX

Borax (from Persian burah), also known as sodium
borate, sodium tetraborate, or disodium tetraborate,
is an important boron compound, a mineral, and a salt
of boric acid. It is usually a white powder consisting
of soft colorless crystals that dissolve easily in
water.

Borax has a wide variety of uses. It is a component of
many detergents, cosmetics, and enamel glazes. It is
also used to make buffer solutions in biochemistry, as
a fire retardant, as an anti-fungal compound for
fiberglass, as an insecticide, as a flux in
metallurgy, and as a precursor for other boron
compounds.

The term borax is used for a number of closely related
minerals or chemical compounds that differ in their
crystal water content, but usually refers to the
decahydrate. Commercially sold borax is usually
partially dehydrated.

Name

The origin of the name is traceable to the Medieval
Latin borat, which comes from the Arabic buraq, which
comes from either the Persian burah [1] or the Middle
Persian burak [2]

Uses

Buffer

Sodium borate is used in biochemical and chemical
laboratories to make SB buffers, e.g. for gel
electrophoresis of DNA. It has a lower conductivity,
produces sharper bands, and can be run at higher
speeds than can gels made from TBE buffer or TAE
buffer (5 – 35 V/cm as compared to 5 – 10 V/cm). At a
given voltage, the heat generation and thus the gel
temperature is much lower than with TBE or TAE
buffers, therefore the voltage can be increased to
speed up electrophoresis so that a gel run takes only
a fraction of the usual time. Downstream applications,
such as isolation of DNA from a gel slice or southern
blot analysis, work as expected with sodium borate
gels. Borate buffers (usually at pH 8) are also used
as preferential equilibration solution in DMP-based
crosslinking reactions.

Lithium borate is similar to sodium borate and has all
of its advantages, but permits use of even higher
voltages due to the lower conductivity of lithium ions
as compared to sodium ions.[1] However, lithium borate
is much more expensive.

Flux

A mixture of borax and ammonium chloride is used as a
flux when welding iron and steel. It lowers the
melting point of the unwanted iron oxide (scale),
allowing it to run off. Borax is also used mixed with
water as a flux when soldering jewelry metals such as
gold or silver. It allows the molten solder to flow
evenly over the joint in question. Borax is also a
good flux for 'pre-tinning' tungsten with zinc -
making the tungsten soft-solderable.[2]

Food additive

Borax is used as a food additive in some countries
with the E number E285, but is banned in the United
States. Its use is similar to salt, and it appears in
French and Iranian caviar.

Other uses

Component of detergents
Ingredient in enamel glazes
Component of glass, pottery, and ceramics
Fire retardant
Anti-fungal compound for fibreglass and cellulose
insulation
Insecticide to kill ants and fleas
Precursor for sodium perborate monohydrate that is
used in detergents, as well as for boric acid and
other borates
Treatment for thrush in horses' hooves
Used to make indelible ink for dip pens by dissolving
shellac into heated borax
Curing agent for snake skins

Natural sources
Borax occurs naturally in evaporite deposits produced
by the repeated evaporation of seasonal lakes (see
playa). The most commercially important deposits are
found in Turkey and near Boron, California and other
locations in the Southwestern United States, the
Atacama desert in Chile, and in Tibet. Borax can also
be produced synthetically from other boron compounds.

Toxicity

Boric acid, sodium borate, and sodium perborate are
estimated to have a lethal dose (LD50) from 5 to 20
g/kg in humans[verification needed][3]. These
substances are toxic to all cells, and have a slow
excretion rate through the kidneys. Kidney toxicity is
the greatest, with liver fatty degeneration, cerebral
edema, and gastroenteritis. A reassessment of boric
acid/borax by the United States Environmental
Protection Agency Office of Pesticide Programs found
potential developmental toxicity (especially effects
on the testes).[4] Boric acid solutions used as an eye
wash or on abraded skin are known to be especially
toxic to infants, especially after repeated use
because of its slow elimination rate.

Chemistry
The term borax is often used for a number of closely
related minerals or chemical compounds that differ in
their crystal water content:
Anhydrous borax (Na2B4O7)
Borax pentahydrate (Na2B4O7·5H2O)
Borax decahydrate (Na2B4O7·10H2O)

Borax is generally described as Na2B4O7·10H2O.
However, it is better formulated as
Na2[B4O5(OH)4]·8H2O, since borax contains the
[B4O5(OH)4]2− ion. In this structure, there are two
four-coordinate boron atoms (two BO4 tetrahedra) and
two three-coordinate boron atoms (two BO3 triangles).

Borax is also easily converted to boric acid and other
borates, which have many applications. If left exposed
to dry air, it slowly loses its water of hydration and
becomes the white and chalky mineral tincalconite
(Na2B4O7·5H2O).

When borax is added to a flame, it produces a bright
orange color. This property has been tried in amateur
fireworks, but borax in this use is not popular
because its waters of hydration inhibit combustion of
compositions and make it an inferior source of the
sodium which is responsible for most of its flame
color, and which overwhelms the green contributed to
the flame by boron.

However, commercially available borax can be mixed
with flammables such as methanol to give the
characteristic green flame of boron when ignited,
which then slowly gives way to the characteristic
yellow-orange flame of the sodium.

________________________________________________________
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

http://id.yahoo.com/

April 14, 2008 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

MEK

Butanone is a manufactured organic chemical. It is a
colorless liquid with a sharp, sweet butterscotch odor
reminiscent of acetone. It is a ketone, also known as
methyl ethyl ketone (MEK).

Butanone is produced in large quantities. Nearly half
of it is used in paints and other coatings because it
will quickly evaporate. It dissolves many substances
and is used as a solvent in processes involving gums,
resins, cellulose acetate and nitrocellulose coatings
and in vinyl films. It is also used in the synthetic
rubber industry, It is used in manufacturing plastics,
textiles, in the production of paraffin wax, and in
household products such as lacquer, varnishes, paint
remover, a denaturing agent for denatured alcohol,
glues and as a cleaning agent. MEK is also used in dry
erase markers as the solvent of the erasable dye. It
is used for synthesis of methyl ethyl ketone peroxide,
a catalyst for some polymerization reactions. It is
highly flammable. It is not considered a large health
threat.

Butanone occurs as a natural product. It is made by
some trees and found in some fruits and vegetables in
small amounts. It is also released to the air from car
and truck exhausts.

Health effects

The known health effects to people from exposure to
butanone are slight irritation of the nose, throat,
skin, and eyes. There are no known cases of any humans
dying from breathing butanone alone. It is basically
harmless. However, if butanone is breathed along with
other chemicals that damage health, it can increase
the amount of damage that occurs.

Serious health effects in animals have been seen only
at very high levels. When breathed, these effects
included birth defects (Schwetz et al. 1991. Fund.
Appl. Toxicol. 16:742-748), loss of consciousness, and
death. When swallowed, rats had nervous system effects
including drooping eyelids and uncoordinated muscle
movements. There was no damage to the ability to
reproduce. Mice who breathed low levels for a short
time showed temporary behavioral effects. Mild kidney
damage was seen in animals that drank water with low
levels of butanone for a short time.

There are no long-term studies with animals either
breathing or drinking butanone.

Methyl ethyl ketone is listed as a Table II precursor
under the United Nations Convention Against Illicit
Traffic in Narcotic Drugs and Psychotropic Substances

________________________________________________________
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

http://id.yahoo.com/

April 14, 2008 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

CAUSTIC SODA

Sodium hydroxide (NaOH), also known as lye, caustic
soda and (incorrectly, according to IUPAC
nomenclature)[1] as sodium hydrate, is a caustic
metallic base. Sodium hydroxide forms a strong
alkaline solution when dissolved in a solvent such as
water. It is used in many industries, mostly as a
strong chemical base in the manufacture of pulp and
paper, textiles, drinking water, soaps and detergents
and as a drain cleaner. Worldwide production in 1998
was around 45 million tonnes. Sodium hydroxide is the
most used base in chemical laboratories.

Pure sodium hydroxide is a white solid; available in
pellets, flakes, granules and as a 50% saturated
solution. It is deliquescent and readily absorbs
carbon dioxide from the air, so it should be stored in
an airtight container. It is very soluble in water
with liberation of heat. It also dissolves in ethanol
and methanol, though it exhibits lower solubility in
these solvents than potassium hydroxide. It is
insoluble in ether and other non-polar solvents. A
sodium hydroxide solution will leave a yellow stain on
fabric and paper.

Physical properties

Δ H° dissolution for diluted aqueous -44.45 kJ /
mol;

From aqueous solutions at 12.3-61.8°C, it
crystallizes in monohydrate, with a melting point of
65.1 ° C and density of 1.829 g/cm 3;

Δ H° form -734.96 kJ / mol;

Monohydrate from -28 to -24°C;

Heptahydrate from -24 to -17.7°C;

Pentahydrate from -17.7 to -5.4°C;

Tetrahydrate (α- changed), at -5 , 4 – 12.3°C Also
know metastable β- NaOH 4* H2O. Which above 61.8°C
are crystallized.

Chemical properties

Sodium hydroxide is completely ionic, containing
sodium ions and hydroxide ions. The hydroxide ion
makes sodium hydroxide a strong base which reacts with
acids to form water and the corresponding salts, e.g.,
with hydrochloric acid, sodium chloride is formed:
NaOH(aq) + HCl(aq) → NaCl(aq) + H2O(l)

In general such neutralization reactions are
represented by one simple net ionic equation:
OH−(aq) + H3O+(aq) → 2H2O

This type of reaction with a strong acid, releases
heat, and hence is referred to as exothermic. Such
acid-base reactions can also be used for titrations,
which is a common method to determine the
concentration of acids. Another type of reaction that
sodium hydroxide is involved in is with acidic oxides.
The reaction of carbon dioxide has already been
mentioned, but other acidic oxides such as sulfur
dioxide (SO2) also react completely. Such reactions
are often used to "scrub" harmful acidic gases (like
SO2 and H2S) and prevent their release into the
atmosphere.
2NaOH + CO2 → Na2CO3 + H2O

Sodium hydroxide slowly reacts with glass to form
sodium silicate, so glass joints and stopcocks exposed
to NaOH have a tendency to "freeze".[citation needed]
Flasks and glass-lined chemical reactors are damaged
by long exposure to hot sodium hydroxide, and the
glass becomes frosted. Sodium hydroxide does not
attack iron since Iron does not have amphoteric
properties. A few trasition metals, however, may react
with Sodium Hydroxide in a vigorous way. In 1986 an
aluminium road tanker in the UK was mistakenly used to
transport 25% sodium hydroxide solution, causing
pressurisation of the contents and damage to the
tanker.

Unlike NaOH, the hydroxides of most metals are
insoluble, and therefore sodium hydroxide can be used
to precipitate metal hydroxides. One such hydroxide is
aluminium hydroxide, used as a gelatinous floc to
filter out particulate matter in water treatment.
Aluminium hydroxide is prepared at the treatment plant
from aluminium sulfate by reacting with NaOH. This
reaction is highly profitable, and is hence an
important synthesis reaction.

Sodium hydroxide reacts readily with carboxylic acids
to form their salts and is even a strong enough base
to form salts with phenols. NaOH can be used for the
base-driven hydrolysis of esters (as in
saponification), amides and alkyl halides. However,
the limited solubility of NaOH in organic solvents
means that the more soluble KOH is often preferred.

Manufacture

In 1998, total world production was around 45 million
tonnes. North America and Asia collectively
contributed around 14 million tonnes, while Europe
produced around 10 million tonnes.

Methods of production

Sodium hydroxide is produced (along with chlorine and
hydrogen) via the chloralkali process. This involves
the electrolysis of an aqueous solution of sodium
chloride. The sodium hydroxide builds up at the
cathode, where water is reduced to hydrogen gas and
hydroxide ion:
2Na+ + 2H2O + 2e− → H2 + 2NaOH

To produce NaOH it is necessary to prevent reaction of
the NaOH with the chlorine. This is typically done in
one of three ways, of which the membrane cell process
is economically the most viable.
Mercury cell process (also called the Castner-Kellner
process) – Sodium ions are reduced to sodium metal,
which forms an amalgam with a mercury cathode; this
sodium is then reacted with water to produce NaOH.
There have been concerns about mercury releases,
although modern plants claim to be safe in this
regard.[2]
Diaphragm cell process – uses a steel cathode, and
the reaction of NaOH with Cl2 is prevented using a
porous diaphragm, often made of asbestos fibers. In
the diaphragm cell process the anode area is separated
from the cathode area by a permeable diaphragm. The
brine is introduced into the anode compartment and
flows through the diaphragm into the cathode
compartment. A diluted caustic brine leaves the cell.
The sodium hydroxide must usually be concentrated to
50% and the salt removed. This is done using an
evaporative process with about three tonnes of steam
per tonne of sodium hydroxide. The salt separated from
the caustic brine can be used to saturate diluted
brine. The chlorine contains oxygen and is purified by
liquefaction and evaporation.[3][4]
Membrane cell process – similar to the diaphragm
cell process, with a Nafion membrane to separate the
cathode and anode reactions. Only sodium ions and a
little water pass through the membrane. It produces a
higher quality of NaOH. Of the three processes, the
membrane cell process requires the lowest consumption
of electric energy and the amount of steam needed for
concentration of the caustic is relatively small (less
than one tonne per tonne of sodium hydroxide).[5][6]

An older method for sodium hydroxide production was
the Leblanc process, which produced sodium carbonate,
followed by roasting to create carbon dioxide and
sodium oxide. This method is still occasionally used.
It helped establish sodium hydroxide as an important
commodity chemical.

The LeBlanc process was superseded by the Solvay
process in the late 19th century.

Major producers
In the United States, the major producer of sodium
hydroxide is the Dow Chemical Company, which has
annual production around 3.7 million tonnes from sites
at Freeport, Texas, and Plaquemine, Louisiana. Other
major US producers include Oxychem, PPG, Olin, Pioneer
Companies, Inc. (PIONA), and Formosa. All of these
companies use the chloralkali process

Uses
General applications

Sodium hydroxide is the principal strong base used in
the chemical industry. In bulk it is most often
handled as an aqueous solution, since solutions are
cheaper and easier to handle. It is used to drive
chemical reactions and also for the neutralization of
acidic materials. It can be used also as a
neutralizing agent in petroleum refining. It is
sometimes used as a cleaner.

Paint stripper

A solution of sodium hydroxide in water was
traditionally used as the most common paint stripper
on wooden objects. Due to its caustic nature and the
fact that it can damage the wood surface raising the
grain and staining the color, its use has become less
common.

Gold pennies

Sodium hydroxide has also been used in conjunction
with zinc for creation of the famous "Gold pennies"
experiment. When a penny is boiled in a solution of
NaOH together with some granular zinc metal
(galvanized nails are one source), the color of the
penny will turn silver in about 45 seconds. The penny
is then held in the flame of a burner for a few
seconds and it turns golden brown . The reason this
happens is that granular zinc dissolves in NaOH to
form Zn(OH)42- (tetrahydroxozincate). This zincate ion
becomes reduced to metallic zinc on the surface of a
copper penny. Zinc and copper when heated in a flame
form brass.

Alumina production – Bayer process

Sodium hydroxide is used in the refining of alumina
containing ore (bauxite) to produce alumina (aluminium
oxide) which is the raw material used to produce
aluminium metal via the smelting process.

Use in chemical analysis

In analytical chemistry, sodium hydroxide solutions
are often used to measure the concentration of acids
by titration. Since NaOH is not a primary standard,
solutions must first be standardised by titration
against a standard such as KHP. Burettes exposed to
NaOH should be rinsed out immediately after use to
prevent "freezing" of the stopcock. Sodium hydroxide
was traditionally used to test for cations in
Qualitative Inorganic Analysis, as well as to provide
alkaline media for some reactions that need it, such
as the Biuret test.

Soap production

Sodium hydroxide was traditionally used in soap making
(cold process soap, saponification). The Arabs began
producing soap in this way in the 7th century, and the
same basic process is used today.

Paper making

Sodium hydroxide was also widely used in making paper.
Along with sodium sulfide, NaOH is a key component of
the white liquor solution used to separate lignin from
cellulose fibers in the Kraft process. It also plays a
key role in several later stages of the process of
bleaching the brown pulp resulting from the pulping
process. These stages include oxygen delignification,
oxidative extraction, and simple extraction, all of
which require a strong alkaline environment with a pH
> 10.5 at the end of the stages.

Biodiesel

For the manufacture of biodiesel, sodium hydroxide is
used as a catalyst for the transesterification of
methanol and triglycerides. This only works with
anhydrous sodium hydroxide, because combined with
water the fat would turn into soap, which would be
tainted with methanol. It is used more often than
potassium hydroxide because it is cheaper and a
smaller quantity is needed.

Aluminium etching

Strong bases attack aluminium. This can be useful in
etching through a resist or in converting a polished
surface to a satin-like finish, but without further
passivation such as anodizing or alodining the surface
may become degraded, either under normal use or in
severe atmospheric conditions.

Food preparation

Food uses of sodium hydroxide include washing or
chemical peeling of fruits and vegetables, chocolate
and cocoa processing, caramel color production,
poultry scalding, soft drink processing, and
thickening ice cream. Olives are often soaked in
sodium hydroxide to soften them, while pretzels and
German lye rolls are glazed with a sodium hydroxide
solution before baking to make them crisp. Due to the
difficulty in obtaining food grade sodium hydroxide in
small quantities for home use, sodium carbonate is
often used in place of sodium hydroxide[8].

Specific foods processed with sodium hydroxide
include:
The Scandinavian delicacy known as lutefisk (from
lutfisk, "lye fish").
Hominy is dried maize (corn) kernels reconstituted by
soaking in lye-water. These expand considerably in
size and may be further processed by frying to make
corn nuts or by drying and grinding to make grits.
Nixtamal is similar, but uses calcium hydroxide
instead of sodium hydroxide.
Sodium hydroxide is also the chemical that causes
gelling of egg whites in the production of Century
eggs.
German pretzels are poached in a boiling sodium
carbonate solution or cold sodium hydroxide solution
before baking, which contributes to their unique
crust.
Most yellow coloured Chinese noodles are made with
lye-water but are commonly mistaken for containing
egg.

Domestic uses

Sodium hydroxide is used in the home as a drain
cleaning agent for clearing clogged drains. It is
distributed as a dry crystal or as a thick liquid gel.
The chemical mechanism employed is the conversion of
grease to a form of soap. Soap is water-soluble, and
can be dissolved by flushing with water. Sodium
hydroxide also decomposes complex molecules such as
the protein that composes hair. Such drain cleaners
(and their acidic versions) are highly caustic and
should be handled with care.

Sodium hydroxide has been used as a relaxer to
straighten hair. However, because of the high
incidence and intensity of chemical burns, chemical
relaxer manufacturers have now switched to other
alkaline chemicals, although sodium hydroxide relaxers
are still available, used mostly by professionals.

Tissue Digestion

This is a process that was used with farm animals at
one time. This process involves the placing of a
carcass into a sealed chamber, which then puts the
carcass in a mixture of sodium hydroxide and water,
which breaks chemical bonds keeping the body intact.
This eventually turns the body into a coffee-like
liquid, and the only solid remains are bone hulls,
which could be crushed between one's fingertips. It is
also of note that sodium hydroxide is frequently used
in the process of decomposing roadkill dumped in
landfills by animal disposal contractors[citation
needed].

Sodium hydroxide has also been used by criminals and
serial killers to dispose of their victims' bodies

Illegal drugs

Sodium hydroxide is a key reagent in the process of
making methamphetamine and other illegal drugs.
Contrary to popular media reports, it is not actually
an "ingredient" in these drugs, but simply a strong
base used to manipulate the pH at various points in a
chemical synthesis.

Cleansing agent

Sodium hydroxide is frequently used as a cleaner in
breweries, where it is simply called "caustic". It is
added to water, heated, and then used to clean the
large stainless steel tanks where beer is brewed,
fermented, and stored. It can dissolve oils and
protein-based deposits. A sodium hydroxide soak
solution is used as a powerful degreaser on stainless
and glass bakeware. It also the most common ingredient
in oven cleaners.

Safety

Solid sodium hydroxide or solutions containing high
concentrations of sodium hydroxide may cause chemical
burns, permanent injury or scarring, and blindness.

Dissolution of sodium hydroxide is highly exothermic,
and the resulting heat may cause heat burns or ignite
flammables.

Sodium Hydroxide is extremely caustic, and can react
with fats and oils on skin, in a reaction which
creates salts. For this reason, sodium hydroxide is
very dangerous, and skin should be washed thoroughly
with water following contact with this substance.

________________________________________________________
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/

April 11, 2008 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

PRODUCT LIST

  1. ABF
  2. ABS SOFT
  3. AEROSIL
  4. AIR RAKSA
  5. ALCOHOL PHARMACY
  6. AMINON/ KOMPERLAND
  7. AMMONIAK
  8. AMMONIUM CLORIDE
  9. ANTIFOAM 900 Z
  10. ASAM SULPHAT
  11. BENZOATE
  12. BORAX
  13. BORIC ACID
  14. BUTANOL
  15. CARBON AKTIF
  16. CHITOSAN
  17. CIOKO
  18. CITRIC ACID/ CITRUN
  19. CMC
  20. COBALT 8%
  21. COOPER SULPHAT
  22. CREAMER
  23. CUKA
  24. CYC
  25. DOP
  26. DRUM POLIGEN
  27. ETHYL ACETETE (EA)
  28. ECSTRACT COFFEE
  29. FERRIC CLORIDE
  30. FLAVOUR ORANGE
  31. FLUCULANT
  32. FORMIC ACID
  33. GARAM INDUSTRI
  34. GLYCERINE
  35. H2O2
  36. HCL
  37. HF
  38. HYPO 12%
  39. IPA
  40. CALCIUM
  41. KAPORIT
  42. KAPUR
  43. KATALIS
  44. LILIN
  45. MAGNESIUM CLORIDE
  46. MAGNESIUM OXIDE
  47. MAGNESIUM SULPHAT
  48. MALATION
  49. MATT 200
  50. MATT 220
  51. MATT 225
  52. MATT 300
  53. MATT 450
  54. MC
  55. MENTHOL CRYSTAL
  56. METHANOL
  57. MIRROR GLAZE
  58. MONO AMMONIUM PHOSPHATE
  59. MUSTANG
  60. NITRIC ACID
  61. NORMAL HEXANE
  62. NP 9
  63. OXALIC ACID
  64. PAC
  65. PALM WAX
  66. PARAFORMALDEHIDE
  67. PARFUM
  68. PEGASOL
  69. PEWARNA MAKANAN
  70. PEWARNA MINYAK
  71. PEWARNA SABUN
  72. PG
  73. PHOSPORIC ACID
  74. PINE OIL
  75. PISANG AMBON
  76. PIU
  77. PLASTIC FILM
  78. POTASIUM HIDROXIDE/ KOH
  79. POTASIUM NITRATE POWDER
  80. POTASIUM NITRATE CRYSTAL
  81. POTASIUM SORBATE
  82. PVA NON SHRINK
  83. RESIN
  84. SBP
  85. SHMP
  86. SILLICA GEL
  87. SILLICON EMULSION
  88. SILLICON OIL
  89. SILLICON RUBBER NISSER RTV
  90. SIONGKA
  91. SM
  92. SODA API/ CAUSTIC SODA
  93. SODA ASH
  94. SMT
  95. SODA KUE
  96. SODIUM BICROMATE
  97. SODIUM CLORITE
  98. SODIUM CYANIDE
  99. SODIUM METABILULPHITE
  100. SODIUM METASILICATE PENTA
  101. SODIUM NITRATE
  102. SODIUM NITRITE
  103. SODIUM SIKLAMATE
  104. SODIUM SULPHAT
  105. SODIUM SULPHITE
  106. SODIUM HYPOSULPHITE/ THEOSULPHAT
  107. STERIC ACID
  108. STTP
  109. SULPHUR
  110. TALC HAICHEN
  111. TALC LIONING
  112. TAWAS
  113. TCE
  114. TEXAPON
  115. THINNER AC
  116. THINNER A
  117. THINNER F
  118. THINNER HG
  119. THINNER MK
  120. THINNER ND
  121. THINNER TN
  122. TITANIUM DIOXIDE
  123. TSP
  124. VANILI POLLAR BEAR
  125. WATER GLASS 58 BOME
  126. WHITE OIL GRADE A
  127. WR
  128. XYLENE
  129. ZINC OXIDE

April 4, 2008 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

ALKOHOL

Alkohol
Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa
Indonesia.
Artikel ini adalah tentang senyawa kimia. Untuk
minuman beralkohol, lihat pula minuman keras

Alkohol sering dipakai untuk menyebut etanol, yang
juga disebut grain alcohol; dan kadang untuk minuman
yang mengandung alkohol. Hal ini disebabkan karena
memang etanol yang digunakan sebagai bahan dasar pada
minuman tersebut, bukan metanol, atau grup alkohol
lainnya. Begitu juga dengan alkohol yang digunakan
dalam dunia famasi. Alkohol yang dimaksudkan adalah
etanol. Sebenarnya alkohol dalam ilmu kimia memiliki
pengertian yang lebih luas lagi.

Dalam kimia, alkohol (atau alkanol) adalah istilah
yang umum untuk senyawa organik apa pun yang memiliki
gugus hidroksil (-OH) yang terikat pada atom karbon,
yang ia sendiri terikat pada atom hidrogen dan/atau
atom karbon lain.

Struktur

Gugus fungsional alkohol adalah gugus hidroksil yang
terikat pada karbon hibridisasi sp3. Ada tiga jenis
utama alkohol – ‘primer’, ‘sekunder, dan ‘tersier’.
Nama-nama ini merujuk pada jumlah karbon yang terikat
pada karbon C-OH. Etanol dan metanol (gambar di bawah)
adalah alkohol primer. Alkohol sekunder yang paling
sederhana adalah propan-2-ol, dan alkohol tersier
sederhana adalah 2-metilpropan-2-ol.

Rumus kimia umum
Rumus kimia umum alkohol adalah CnH2n+1OH’

Penggunaan

Otomotif
Alkohol dapat digunakan sebagai bahan bakar otomotif.
Ethanol dan methanol dapat dibuat untuk membakar lebih
bersih dibanding gasoline atau diesel. Alkohol dapat
digunakan sebagai antifreeze di radiator. Untuk
menambah penampilan Mesin pembakaran dalam, methanol
dapat disuntikan kedalam mesin Turbocharger dan
Supercharger. Ini akan mendinginkan masuknya udara
kedalam pipa masuk, menyediakan masuknya udara yang
lebih padat.

Nama-nama untuk alkohol
Ada dua cara menamai alkohol: nama umum dan nama
IUPAC.

Nama umum biasanya dibentuk dengan mengambil nama
gugus alkil, lalu menambahkan kata “alkohol”.
Contohnya, “metil alkohol” atau “etil alkohol”.

Nama IUPAC dibentuk dengan mengambil nama rantai
alkananya, menghapus “a” terakhir, dan menambah “ol”.
Contohnya, “metanol” dan “etanol”.

Sifat fisika
Gugus hidroksil mengakibatkan alkohol bersifat polar.

pH
Alkohol adalah asam lemah

Metanol dan etanol
Dua alkohol paling sederhana adalah metanol dan etanol
(nama umumnya metil alkohol dan etil alkohol) yang
strukturnya sebagai berikut:
H H H
| | |
H-C-O-H H-C-C-O-H
| | |
H H H
metanol etanol

Dalam peristilahan umum, “alkohol” biasanya adalah
etanol atau grain alcohol. Etanol dapat dibuat dari
fermentasi buah atau gandum dengan ragi. Etanol sangat
umum digunakan, dan telah dibuat oleh manusia selama
ribuan tahun. Etanol adalah salah satu obat rekreasi
(obat yang digunakan untuk bersenang-senang) yang
paling tua dan paling banyak digunakan di dunia.
Dengan meminum alkohol cukup banyak, orang bisa mabuk.
Semua alkohol bersifat toksik (beracun), tetapi etanol
tidak terlalu beracun karena tubuh dapat
menguraikannya dengan cepat.

Alkohol umum
isopropil alkohol (sec-propil alcohol, propan-2-ol,
2-propanol) H3C-CH(OH)-CH3, atau alkohol gosok
etilena glikol (etana-1,2-diol) HO-CH2-CH2-OH, yang
merupakan komponen utama dalam antifreeze
gliserin (atau gliserol, propana-1,2,3-triol)
HO-CH2-CH(OH)-CH2-OH yang terikat dalam minyak dan
lemak alami, yaitu trigliserida (triasilgliserol)
Fenol adalah alkohol yang gugus hidroksilnya terikat
pada cincin benzena

Alkohol digunakan secara luas dalam industri dan sains
sebagai pereaksi, pelarut, dan bahan bakar. Ada lagi
alkohol yang digunakan secara bebas, yaitu yang
dikenal di masyarakat sebagai spirtus. Awalnya alkohol
digunakan secara bebas sebagai bahan bakar. Namun
untuk mencegah penyalahgunaannya untuk makanan atau
minuman, maka alkohol tersebut didenaturasi.
denaturated alcohol disebut juga methylated spirit,
karena itulah maka alkohol tersebut dikenal dengan
nama spirtus.

____________________________________________________________________________________
Never miss a thing. Make Yahoo your home page.

http://www.yahoo.com/r/hs

Maret 27, 2008 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

FORMALIN

Senyawa kimia formaldehida (juga disebut metanal),
merupakan aldehida, bentuknya gas, yang rumus kimianya
H2CO. Formaldehida awalnya disintesa oleh kimiawan
Rusia Aleksandr Butlerov tahun 1859, tapi
diidentifikasi oleh Hoffman tahun 1867.

Formaldehida bisa dihasilkan dari membakar bahan yang
mengandung karbon. Dikandung dalam asap dari kebakaran
hutan, knalpot mobil, dan asap tembakau. Dalam
atmosfer bumi, formaldehida dihasilkan dari aksi
cahaya matahari dan oksigen terhadap metana dan
hidrokarbon lain yang ada di atmosfer. Formaldehida
dalam kadar kecil sekali juga dihasilkan sebagai
metabolit kebanyakan organisme, termasuk manusia.

Sifat
Meskipun dalam udara bebas formaldehida berada dalam
wujud gas, tapi bisa larut dalam air (biasanya dijual
dalam kadar larutan 37% menggunakan merk dagang
formalin atau formol). Dalam air, formaldehida
mengalami polimerisasi, sedikit sekali yang ada dalam
bentuk monomer H2CO. Umumnya, larutan ini mengandung
beberapa persen metanol untuk membatasi
polimerisasinya. Formalin adalah larutan formaldehida
dalam air, dengan kadar antara 10%-40%.

Meskipun formaldehida menampilkan sifat kimiawi
seperti pada umumnya aldehida, senyawa ini lebih
reaktif daripada aldehida lainnya. Formaldehida
merupakan elektrofil, bisa dipakai dalam reaksi
substitusi aromatik elektrofilik dan sanyawa aromatik
serta bisa mengalami reaksi adisi elektrofilik dan
alkena. Karena keadaannya katalis basa, formaldehida
bisa mengalami reaksi Cannizaro menghasilkan asam
format dan metanol.

Formaldehida bisa membentuk trimer siklik,
1,3,5-trioksan atau polimer linier polioksimetilen.
Formasi zat ini menjadikan tingkah laku gas
formaldehida berbeda dari hukum gas ideal, terutama
dalam tekanan tinggi atau udara dingin.

Formaldehida bisa dioksidasi oleh oksigen atmosfer
menjadi asam format, karena itu larutan formaldehida
harus ditutup serta diisolasi supaya tidak kemasukan
udara.

Produksi
Secara industri, formaldehida dibuat dari oksidasi
katalitik metanol. Katalis yang paling sering dipakai
adalah logam perak atau campuran oksida besi dan
molibdenum serta vanadium. Dalam sistem oksida besi
yang lebih sering dipakai (proses Formox), reaksi
metanol dan oksigen terjadi pada 250 °C dan
menghasilkan formaldehida, berdasarkan persamaan kimia
2 CH3OH + O2 → 2 H2CO + 2 H2O.

Katalis yang menggunakan perak biasanya dijalankan
dalam hawa yang lebih panas, kira-kira 650 °C. dalam
keadaan begini, akan ada dua reaksi kimia sekaligus
yang menghasilkan formaldehida: satu seperti yang di
atas, sedangkan satu lagi adalah reaksi dehidrogenasi
CH3OH → H2CO + H2.

Bila formaldehida ini dioksidasi kembali, akan
menghasilkan asam format yang sering ada dalam larutan
formaldehida dalam kadar ppm.

Di dalam skala yang lebih kecil, formalin bisa juga
dihasilkan dari konversi etanol, yang secara komersial
tidak menguntungkan.

Kegunaan
Formaldehida dapat digunakan untuk membasmi sebagian
besar bakteri, sehingga sering digunakan sebagai
disinfektan dan juga sebagai bahan pengawet. Sebagai
disinfektan, Formalin dimanfaatkan untuk pembersih :
lantai, kapal, gudang dan pakaian. Formaldehida juga
dipakai sebagai pengawet dalam vaksinasi. Dalam bidang
medis, larutan formaldehida dipakai untuk mengeringkan
kulit, misalnya mengangkat kutil. Larutan dari
formaldehida sering dipakai dalam membalsem untuk
mematikan bakteri serta untuk sementara mengawetkan
bangkai.

Dalam industri, formaldehida kebanyakan dipakai dalam
produksi polimer dan rupa-rupa bahan kimia. Kalau
digabungkan dengan fenol, urea, atau melamin,
formaldehida menghasilkan resin termoset yang keras.
Resin ini dipakai untuk lem permanen, misalnya yang
dipakai untuk kayulapis/tripleks atau karpet. Juga
dalam bentuk busa-nya sebagai insulasi. Produksi resin
formaldehida menghabiskan lebih dari setengahnya dari
produksi formaldehida.

Untuk mensintesa bahan-bahan kimia, formaldehida
misalnya dipakai untuk produksi alkohol polifungsional
seperti pentaeritritol, yang dipakai untuk membuat cat
bahan peledak. Turunan formaldehida yang lain adalah
metilen difenil diisosianat, komponen penting dalam
cat dan busa poliuretan, serta heksametilen tetramina,
yang dipakai dalam resin fenol-formaldehida untuk
membuat RDX (bahan peledak).

Sebagai formalin, larutan senyawa kimia ini sering
digunakan sebagai insektisida, serta bahan baku
pabrik-pabrik resin plastik dan bahan peledak.

Kegunaan lain :
Pengawet mayat
Pembasmi lalat dan serangga pengganggu lainnya.
Bahan pembuatan sutra sintetis, zat pewarna, cermin,
kaca
Pengeras lapisan gelatin dan kertas dalam dunia
Fotografi.
Bahan pembuatan pupuk dalam bentuk urea.
Bahan untuk pembuatan produk parfum.
Bahan pengawet produk kosmetika dan pengeras kuku.
Pencegah korosi untuk sumur minyak
Dalam konsentrat yang sangat kecil (kurang dari 1%),
Formalin digunakan sebagai pengawet untuk berbagai
barang konsumen seperti pembersih barang rumah tangga,
cairan pencuci piring, pelembut kulit, perawatan
sepatu, shampoo mobil, lilin, dan pembersih karpet.

Penggunaan Formalin yang salah
Penggunaan Formalin yang salah adalah hal yang sangat
disesalkan. Melalui sejumlah survey dan pemeriksaan
laboratorium, ditemukan sejumlah produk pangan yang
menggunakan formalin sebagai pengawet. Praktek yang
salah seperti ini dilakukan oleh produsen atau
pengelola pangan yang tidak bertanggung jawab.
Beberapa contoh prduk yang sering diketahui mengandung
formalin misalnya
Ikan segar : Ikan basah yang warnanya putih bersih,
kenyal, insangnya berwarna merah tua (bukan merah
segar), awet sampai beberapa hari dan tidak mudah
busuk.
Ayam potong : Ayam yang sudah dipotong berwarna putih
bersih, awet dan tidak mudah busuk.
Mie basah : Mie basah yang awet sampai beberapa hari
dan tidak mudah basi dibandingkan dengan yang tidak
mengandung formalin.
Tahu : Tahu yang bentuknya sangat bagus, kenyal, tidak
mudah hancur, awet beberapa hari dan tidak mudah basi.

Pengaruh terhadap badan
Karena resin formaldehida dipakai dalam bahan
konstruksi seperti kayu lapis/tripleks, karpet, dan
busa semprot dan isolasi, serta karena resin ini
melepaskan formaldehida pelan-pelan, formaldehida
merupakan salah satu polutan dalam ruangan yang sering
ditemukan. Apabila kadar di udara lebih dari 0.1
mg/kg, formaldehida yang terhisap bisa menyebabkan
iritasi kepala dan membran mukosa, yang menyebabkan
keluar air mata, pusing, teggorokan serasa terbakar,
serta kegerahan.

Kalau terpapar formaldehida dalam jumlah banyak,
misalnya terminum, bisa menyebabkan kematian. Dalam
tubuh manusia, formaldehida dikonversi jadi asam
format yang meningkatkan keasaman darah, tarikan nafas
menjadi pendek dan sering, hipotermia, juga koma, atau
sampai kepada kematiannya.

Di dalam tubuh, formaldehida bisa menimbulkan
terikatnya DNA oleh protein, sehingga mengganggu
ekspresi genetik yang normal. Binatang percobaan yang
menghisap formaldehida terus-terusan terserang kanker
dalam hidung dan tenggorokannya, sama juga dengan yang
dialami oleh para pegawai pemotongan papan artikel.
Tapi, ada studi yang menunjukkan apabila formaldehida
dalam kadar yang lebih sedikit, seperti yang digunakan
dalam bangunan, tidak menimbulkan pengaruh
karsinogenik terhadap makhluk hidup yang terpapar zat
tersebut.

Pertolongan pertama bila terjadi keracunan akut
Pertolongan tergantung pada konsentrasi cairan dan
gejala yang dialami korban. Sebelum ke rumah sakit,
berikan arang aktif (norit) bila tersedia. Jangan
melakukan rangsangan agar korban muntah, karena akan
menimbulkan resiko trauma korosif pada saluran cerna
atas. Di rumah sakit biasanya tim medis akan melakukan
bilas lambung (gastric lavage), memberikan arang aktif
(walaupun pemberian arang aktif akan mengganggu
penglihatan pada saat endoskopi). Endoskopi adalah
tindakan untuk mendiagnosis terjadinya trauma esofagus
dan saluran cerna. Untuk meningkatkan eliminasi
formalin dari tubuh dapat dilakukan hemodyalisis (cuci
darah). Tindakan ini diperlukan bila korban
menunjukkan tanda-tanda asidosis metabolik berat.

____________________________________________________________________________________
Never miss a thing. Make Yahoo your home page.

http://www.yahoo.com/r/hs

Maret 27, 2008 Posted by | Uncategorized | 1 Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.